Tamalia Alisyahbana : Buku Pelajaran Harus Berkembang Terus

Padangmedia: 24 April 2008
PADANG – Indonesia dibentuk berdasarkan dialog. Itu sangat penting. Kita bisa bertahan sebagai negara kesatuan karena dialog. Selama dialog itu bisa berlangsung terus, kita Indonesia bisa bertahan. Oleh sebab itu pendidikan sekarang harus mengajarkan siswa agar bisa berdialog dan bisa berpikir secara kritis. Inilah tugas utama dari Depdiknas.

Hal itu diungkapkan Tamalia Alisyahbana, putri Sutan Takdir Alisyahbana (STA) kepada padangmedia.com, saat menghadiri diskusi 100 tahun STA di Taman Budaya Padang, kemarin. Mengajarkan siswa menjadi kritis bisa saja melalui pengajaran sastra dan banyak membaca. Sayangnya, kata Tamalia, yang juga ketua Yayasan STA, anak-anak sekarang belum terbiasa dengan membaca.

“Itulah tugas orang tua juga gauru untuk mencarikan titik-titik yang menarik buat anak untuk membaca terutama dari sastra kita sendiri. Mungkin kita bisa mulai dari cerita kancil sejak mereka kanak-kanak.,” ucap Tamalia.

Disamping itu, kata Tamalia, pemerintah punya tugas sangat penting untuk melakukan penterjemahan massal. Kalau ingin mempertahankan bahasa Indonesia, pemerintah harus membuat dan membuka pusat penterjemahan nasional yang menterjemahkan ratusan ribu judul buku bahkan jutaan buku seperti di Jepang. Bahasa Jepang bertahan terus karena pemerintah Jepang melakukan penterjemahan massal.

Menyangkut harga buku yang relatif mahal karena harga kertas yang terus naik, Tamalia tidak bisa menanggapinya karena merasa bukan ahlinya. Tetapi ia bisa mengatakan bahwa kebijakan pemerintah membeli copyright untuk mendapatkan buku murah, bukanlah kebijakan yang bagus.

“Saya tidak bisa menjawab tentang harga kertas. Tapi saya bisa katakan mengenai kebijakan pemerintah membeli copyright semua buku-buku sekolah saya kira kebijakan itu kurang bagus yang hanya setengah bagus,” jelas Tamalia..

Karena menurutnya kebijakan itu akan mematikan penerbit di Indonesia. Lagi pula buku sekolah tidak bisa dipakai tiap tahun yang sama, karena buku pelajaran harus berkembang terus. Dengan mengganti buku setiap tahun, memang membutuhkan biaya dan dana.

“Kalau kebijakan pemerintah dapat mematikan penerbit, lalu penerbit tidak bisa mendapat keuntungan dari buku sekolah, mana mungkin mereka menginvestasikan dana untuk mengembangkan terus buku sekolah kita. Secara jangka panjang, saya kira kebijakan itu kurang dipikirkan dengan matang. Pemerintah harus mencari kebijakan yang tidak mematikan penerbit Indonesia supaya buku kita berkembang terus,” papar Tamalia yang juga mengatakan ayahnya adalah salah seorang perintis Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI)

Mungkin, menurut Tamalia, pemerintah bisa membeli buku penerbit dan salurkan gratis kepada anak-anak. (ning/nit)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s